Showing posts with label Study in Japan. Show all posts
Showing posts with label Study in Japan. Show all posts

Monday, January 13, 2014

Tour in Atami City

Hello everyone...

Before the winter holiday at the last of December, I got an opportunity travelling to another part of Japan for my Study on Japanese Companies and Industries Class. And what that place is? People here call it as Atami City. Actually this city is not that far away from Tokyo in Shizuoka Perfecture (the same perfecture with Fujisan).That time, we only spend around 2-3 hours by bus to reach this city from Tokyo. 

We live in one of ryokan, which is a Japanese traditional inn, i this city Atami Heart of Pia. Typically, this is featured with tatami floor, communal baths, and also at night we sleep in Japanese traditional futon (not in bed) at night. It also has onsen (Japanese public bath) inside. This is my first experience to live in this kind of inn. I felt luck because that from our room's window, we can see directly Atami beach and also the serve us welcome drink (green tea=ocha) and also cake made of green tea that I've never tasted before. What makes me even happier is at night, we had dinner inside a kind of Japanese room and each of us got a lot of Japanese food, start from tempura, salad, miso, seafood, shabu shabu, pickles, even pudding and cheese cake which were all are very delicious. To tell you truth, it as my first time to eat that lot of food in once time since I come in Japan. ^_^

Ryokan, Scenerie from Window, Dinner, and Welcoming Drink/Cakes

I visit this city for 2 days one night. I myself think that impressive ones that you might get from this city are onsen, shrine, and also beach.

ATAMI ONSEN

Onsen or hot spring is one of the place that marks this city. Japanese onsens can be foun indoor and outdoor, but in this case the ryokan where I stayed have indoor onsen so the guest doesn't need to find other onsen. At first, I thought that onsen is just a sual public bath with geothermally got water inside. But actually, it is not that simple...because the source of hot water is from the earth, so it contains many minerals such as sodium chloride, carbonic, sulphire, iron, or other kind of minerals which depend on the location itself. Those might be the reason why Japanese believe that onsen water can be medicine to treat some medical problems. Minerals in water might affect the water and many other other substance balance in your body which might be good for sickness. But in other hand, for health people or people have blood pressure or heart disorder, being inside the onsen for too long time or too often might cause some side effects such as dizzy, feel weak, and cold. So be careful about that. 

Before entering the onsen to have relaxation, the important one is that people have to wash themself to assure the cleanliness of their body will not affect others inside the onsen. Besides that, wahat I personally don't like is that you are not allowed to use any clothe when you enter it. I myself think it would be much better if they provide private personal onsen. On the map and on the front of onsen usually there is hiragana (yu) that means hot water. Besides ryokan's private onsen, in atami there are other famous onsens, such as Kawara, Sajiro, Seizaemaon, Furo and Mizu, Oh, Kosawa, and Nonaka Hotsprings.

Onsen in Atami (in place where I stay)
Indonesia Boys in Yukata that Use Before/Ater Using Onsen


KINOMIYA SHRINE (Atami Famous Shrine)
Including to what I read, this shrine is worshiped as deity of fishery and forestry. Inside this shrine, can be found a very big camphor tree which is 2000 years old. The interesting one is about the myth that said if you walk around this big tree you can extend your life by 1 year. There are some people believe it but of course not many people believe it, including I myself as a moslem. In Islamic, we are of course not allowed to believe in this kind of thing :D because it can categorized as Shirk/Syirik (polytheism/deification and worship of anyone and anything other than Allah, as the singular God in the universe). Syirik is one of the sins that can't be apologized by God. 
"Say you, He is Allah The One. Allah The Independent, Care Free. He begote none, was He begotten. And nor anyone is equal to Him" (Al-Qur'an Surah Al Ikhlas:1-4)
"Verify Allah will not forgive the sin of shirk, and He forgives all sins, apart from this (Shirk, for whom He wills" (Al-Qur'an Surah An-Nisa:48)
Like another Shinto shrine that can be found in Japan, this shrine has a welcome gate entrance (Torii), a place to clean up your hands and mouth (purification trough), offering hall (haiden), hang wooden plates to write the pray (ema), tress that tight with some omikuji (fortune telling paper ranging from daikichi/good luck or daikyo/badluck), and also straw rope with zigzag paper strips (shimenawa) that mark the boundary of sacred things.


Torii of Kinomiya Shrine, My Group Inside the Shrine, The Sacred Tree, and Haiden

ATAMI BEACH
Yup...although it is not that big, I think the beach in Atami is clean and people relax enjoying the blue water, white sand, and palm tree. Near the bay and port, you can also find some boat that is parked around.

Atami Beach and Bay

Taking Photos Around the Beach
That's all about Atami. It is a good experience to visit there. And actually there is one that I think is very unique and can be potential about this city that might not be found in many other places. You can see mountain and beach in one place (because usually when you can see beach, you will not be able to see sea and vice versa). :) So, Atami  be a good choice for you who is busy and wanna spend your holiday in a new atmosphere and somewhere different with crowded big city like Tokyo. Enjoy ^_^ !!!



Thursday, November 14, 2013

Student Exchange ke Jepang ^_^ : Mau pilih ACAP atau YSEP ???

Setelah di posan sebalumnya saya banyak bahas soal step by step kalo mau exchange ke Jepang, sekarang saya bakal bahas lebih spesifik soal program pertukaran pelajar yang sedang saya dan geng YSEP/ACAP 2013 Indonesia lainnya (total bersembilan) ikuti di Tokyo Institute of  Technology (alias: Tokodai).

Tokodai sendiri menawarkan secara garis besar 2 program student exchange, ada yang namanya YSEP (Young Scientist Exchange Program) yang udah cukup lebih beken dan yang satunya ACAP (Academic Cooperation Agreement Program). Dulu pas mau nge apply saya super bingung...ini bedanya apa sih 2 program ini, terutama buat ACAP yang informasinya masih dikit banget. Haha saya coba tanya ke petugas di kampus juga #kurang menjawab dan masih super ambigu. Bahkan boleh dibilang....karena sangking bingungnya dan less information, saya ga konsisten milih program, awalnya ACAP...eh terus ngelamar YSEP...eh terus pas ngisi formulirny dikasih ACAP...eh terus dapet email dari Tokodai kalo di surat dari ITB saya masuk ke list YSEP tapi lembar registrasinya ACAP. Puyeng pokoknya....saya ga nyalahin siapa-siapa, yang pasti akhirnya Allah menakdirkan saya buat tergabung di program ACAP (Academic Cooperation Agreement Program).

Sebelum ngejelasin lebih lanjut, saya mau kasih tau dulu kalo buat sekolah di Jepang, dalam 1 tahun semester itu dibagi jadi 2, yaitu Spring Semester (dimulai dari bulan April) dan Autumn Semester (dimulai dari bulan Oktober). Tapi, untuk program YSEP dan ACAP ini sendiri dari sekitar bulan September atau bulan Maret karena buat persiapan awal, administrasi, registrasi, dll. Detailnya bakal saya jelasin di masing-masing program.

ACAP (Academic Cooperation Agreement Program)
ACAP ini kayaknya program exchange yang belum lama ada di Tokodai. Bedanya sama YSEP adalah kalo di YSEP udah ditentuin banget mau ngambil YSEP 6 bulan atau 12 bulan dan juga wajib riset plus ngambil 2 kelas wajib yang tadi disebutin di atas. sedangkan kalo untuk ACAP intinya kamu bisa BEBAS. Haha...karena ya kayak nama programnya aja "Academic Cooperation Agreement Program" dimana program exchange yang bakal kamu lakuin itu ya tergantung "Perjanjian kamu sama sensei yang nerima kita jadi mahasiswanya". 
  • Makanya, salah satu prosedur paling penting dari ikutan ACAP itu ya sebelumnya kita harus cari dulu Profesor alias sensei alias academic advisor yang bakal mau nge "host" kamu di laboratoriumnya. Untuk informasi soal laboratorium yang bisa dipilih ya liat-liat aja di website nya Tokodai  http://www.titech.ac.jp/english/about/organization/index.html . Haha salah satu tantangan awal kalo mau ikut program ini adalah kita harus usaha dan berani plus menemukan cara gimana buat nemuin sensei yang mau nampung kita di Tokodai. Nah...kalo udah nemu, kemungkinan besar sama Tokodai bakal diterima  buat ikutan program ACAP. Haha tapi seru kok, pengalaman banget ditolak dan kalo pas diterima biasanya seneng banget. 
  • Selain itu, pas ngisi formulir buat daftar program ACAP, kita disuruh ngisi study plan yang isinya kira-kira di Jepang kita mau ngapain aja dan kalo riset misalnya riset tentang apa. Ga yperlu ang ribet-ribet dan panjang lebar kayak bikin proposal riset sih, singkat aja cuman sekitar 1-2 halaman dan yang penting cukup jelas.
  • KITA SENDIRI  yang nentuin mau berapa lama kita mau ikutan jadi mahasiswa di Tokodai, jangka waktunya suka-suka boleh dari minimal 1 bulan sampai maksimal 1 tahun terus baru diomongin ke sensei nya...kalo setuju ya bakal diterima. Selain itu untuk waktu enrollmentnya juga GA DITENTUIN...bebas aja kita mau masuk dari bulan apa dan berapa lama...asal sensei setuju aja. :)
  • Khusus untuk ACAP, program beasiswa dari JASSO cuman dikasih buat mahasiswa yang minimal ikutan program selama 6 bulan dan selain itu ternyata buat ACAP beasiswanya terbatas banget gak kayak YSEP yang lebih diutamain. Makanya, banyak anak-anak ACAP terutama yang dari Eropa mereka pake uang mereka sendiri lho (tanpa beasiswa) haha kalo saya sih ga bisa ngebayangin kalo harus bayar kehidupan saya sendiri disini..bahkan buat 1 bulan pun.
  • Untuk anak ACAP ga ada kewajiban tertentu buat ngambil berapa SKS atau harus riset dan lain-lain...seperti yang saya bilang suka-suka aja asal sensei kita ngijinin buat ngelakuin itu. Jadinya, ada anak-anak ACAP yang milih buat ngambil kuliah aja tanpa penelitian, ada juga yang research aja tapi ga ngambil kuliah sama sekali, ada juga yang dua-duanya, bahkan saya pernah denger ada yang agak #gabut...jadi kerjaannya main aja wkwk. Hahaha tapi entah bener atau enggak...buat ACAP ini emang dikembaliin ke diri kita masing-masing jadinya, kita pengen dapet apa aja atau pengalaman apa aja sih selama di Tokodai, intinya konon tujuan program exchange ini emang cuman buat kita ngerasain "feel" jadi mahasiswa di Tokyo Tech ini. 
Enaknya ikutan ACAP adalah  bener-bener bisa kita sesuaiin kita maunya kayak apa, mau sibuk atau enggak, mau ngambil kuliah apa aja, dan lain-lain yang menjunjung tinggi kebebasan. Haha yang ga enak dari program ACAP ini adalah karena semuanya serba bebas...jadi kadang suka jadi bingung sendiri atau kurang dapet info-info soal hal-hal di luar akademik, kayak program homestay, pertukra kebudayaan, dll jadi emang harus sering rajin cari-cari sendiri ikut milis news International student center, atau kalo saya sih gampang karena temen-temen saya anak YSEP..jadi bisa suka tetep up to date.Dan selain itu, sesama anak ACAP biasanya ga terlalu kenal atau deket karena emang jarang ketemu dan kerjanya di tempat lab masing-masing. Setelah pertemuan awal buat orientasi...kita langsung dilepas gitu aja ke masing-masing senseinya ga ada acara khusus gathering buat pembukaan, penutupan, dll karena kan emang beda-beda waktu enrollmentnya.

YSEP (Young Scientist Exchange Program)
Ga kayak ACAP yang kayaknya belum terlalu beken, program YSEP ini bisa dibilang udah lama banget diadain sama Tokodai sebagai program pertukaran mahasiswa dari tahun 2000. Karena udah lama, boleh saya bilang program exchange yang satu ini cukup beken dan gampang dicari infonya kemana-mana (apalagi alumni dan anggotanya diharusin bikin blog) dan lebih established dalam suatu sistem yang tertata rapi dibandingin ACAP. Intinya program YSEP yang ditawain itu cuman ada 2 jenis dan 2 tenggat waktu, yaitu
1. YFR (YSEP Focus on Research) yang diperuntukkan buat mahasiswa yang mau ikutan program YSEP selama 1 tahun (baca: 2 semester)
2. YEJ (YSEP Experiencing Japan) yang diperuntukkan buat mahasiswa yang mau ikutan program YSEP selama 6 bulan (baca: 1 semester).
Biasanya, untuk mahasiswa dari Indonesia, program YSEP yang diikutin itu dimulai dari pertengahan atau akhir September alias enrollment di Autumn Semester. Walaupun sebenernya dari Tokodai sendiri ada yang boleh masuk dari Spring Semester (dimulai dari tengah atau akhir Maret)...tapi untuk mahasiswa Indonesia setau saya kebanyakan masuk pas Autumn Semester karena mungkin sesuai pas sama kurikulum Indonesia dimana kenaikan kelas biasanya sekitar bulan Agustus. Nah, untuk anak anak YSEP, selama September ini biasanya ditawarin buat ikut kelas bahasa Jepang "Japanese Survival Class" alias belajar bahasa Jepang singkat (sekitar 5 hari ) dan yang penting-penting aja buat keberlangsungan hidup disini (kayak hiragana/katakana, angka, hari, dan ungkapan-ungkapan umum bahasa Jepang) walaupun ga wajib. Jadi, yang mau ikut kelas bahasa Jepang biasanya bakal disuruh dateng pertengahan September, kalo yang gak ikut ya disuruh dateng sekitar akhir September. Selama bulan September, berhubung belom mulai kuliah (kuliah baru dimulai bulan Oktober) biasanya cuman kayak perkenalan awal sama lab dan sensei, ngurus-ngurusin surat yang seabrek, dan lain-lain. 

Nah untuk program YSEP ini, yang wajib dilakuin adalah kombinasi dari riset/penelitian dan juga harus ngambil 2 kelas yang cukup menarik -relatif- (kuliah "Topics on Japan" yang belajar soal Jepang dan juga diselingi presentasi tentang negara masing-masing peserta YSEP dan juga kuliah "Study on Japanese Companies and Industries" yang kerjaannya jalan-jalan ke industri industri di Jepang alias factory tour). Sisanya? Bebas...boleh ga ngambil mata kuliah lain, kebanyakan ngambil kelas bahasa Jepang, ada juga yang tetep ngambil kuliah lain dari jurusannya masing-masing.

Jadi intinya, untuk YSEP programnya lebih jelas dan terarah dimana harus ngambil 8 sks tiap semester (4 kredit riset, 2 TOJ, dan 2 SJCI). Untuk riset sendiri, bentuknya bisa macem-macem, bisa mandiri ataupun kayak ngebantuin suatu projek dan biasanya bakal diomongin lebih lanjut sama sensei pas udah dateng kesini) dan di akhir semster ada yang namanya Sotsuron alias presentasi akhir hasil penelitian.

Nah, untuk program YSEP ini biasanya kalo udah keterima nanti kita disuruh milih 3 pilihan laboratorium alias sensei tempat kita mau gabung di Tokodai. Ga kayak di Indonesia, di Jepang sistem pembagian tempat belajar ya dari pembagian laboratorium. Untuk info laboratorium atau sensei siapa yang kira-kira bakal cocok sama kita biasanya diliat-liat aja di website. Nah nanti dari 3 pilihan itu, sama YSEP atau suatu sistem yang ada di Tokodai bakal dipilihin dan ditentuin akhirnya tergabung di laboratorium alias sensei utamanya siapa. Jadi ga perlu gehubungin sensei nya langsung dan ga perlu bikin study plan atau rencana penelitiannya dulu..biasanya bakal ditentuinnya nanti pas uda sampe di Jepang.

Enaknya program ini adalah semuanya terprogram dan berhubung memang ada sensei khusus yang bertanggung jawab ke program ini, plus langsung berhubungan sama International student center, jadi info soal acara-acara ISC yang berbau non akademik suka lebih teruptodate. Bahkan emang YSEP udah ada kayak jaringan alumni nya gitu juga dari taun ke taun. Selain itu juga karena anak anak YSEP sering ada kelas bareng,,,jadi biasanya sesama anak YSEP itu lebih kenal dan jadi makin banyak nambah temen dari berbagai negara.

Pertanyaan lain yang sering diajuin soal program ini adalah 
"Penelitiannya Bisa Jadi SKS alias "bernilai" di Indonesia gak?"
Jawabannya adalah TERGANTUNG. Tergantung apa? Ya tergantung kelas dan penelitian yang kamu ambil selama di Tokodai dan tergantung kebijakan kampus, dosen pembimbing, dan jurusan kamu di kampus yang di Indonesia. Beberapa senpai saya satu jurusan yang ikut program2 exchange di Jepang ada yang bisa ngejadiin penelitiannya selama di Tokodai buat jad Tugas Akhir Skripsinya...jadinya pas sampe ke ITB lagi ga usah penelitian TA...tinggal ngambil kuliah yang belum, seminar, dan sidang. Tapi kelas, kredit, alias SKS yang dia ambil di Tokodai ga bisa ditransfer jadi SKS di jurusan. Ada juga yang sebaliknya, SKS kuliah bisa ditransfer tapi penelitian ga bisa. Haha sekali lagi bener-bener TERGANTUNG. Ada baiknya juga mungkin sebelum berangkat exchange ke Jepang coba tanya-tanaya senior yang dulu pernah punya pengalaman yang sama atau nanya ke dosen.
Status kita disini apa? Double degree?
Haha jawabannya adalah ya status mahasiswa ACAP dan YSEP itu ya International Exchange Students (non-degree) jadi kita ga dapet ijazah kelulusan sarjana dari Tokodai atau apapun itu yang disebut double degree. Ya, exchange menurut saya emang yang penting bukan ngejer degree tapi ngejer pengalaman alias life expereince. Walau ga dapet ijazah kelulusan sarjana atau ikut wisuda bareng anak-anak yang degree student lain, disini kita bisa dapet sertifikat enrollment program dan juga transkrip akademik kita. :)

Ya, sekian info singkat dari saya soal ACAP dan YSEP....Saya cuman berharap setidaknya bermanfaat dan ga makin banyak orang yang smpet bingung milih kayak saya hihi. Jadi, mana yang lebih bagus? Ya semuanya ada kelebihan dan kekurangannya masing masing....jadi terserah aja enaknya mau yang mana. Mungkin kalo mau yang rada bebas ga harus ngambil ini itu saya rekomendasiin pilih ACAP, tapi buat yang pengen semuanya teratur dan terprogram mending milih YSEP. Itu pendapat saya pribadi. 

Info lebih lanjut:
Kalo ada yang masih bingung alias penasaran soal perbedaan kedua program ini bisa hubungi saya lebih lanjut ^^. 

Students Exchange ke Jepang ^_^ : Step to do

Yup..kali ini saya bakal ngebahas dikit soal program exchange yang sedang saya ikuti di Jepang. Well saya tertarik nulis ini karena saya yakin banyak banget temen2 yang pengen exchange atau minimal ngerasain sekolah di luar negri terutama di Jepang dan dapet beasiswa. Haha tapi banyak yang bingung dan ga tau gimana caranya.

Jadi, buat sekolah di luar negri, khususnya Jepang secara umum ada 2 jalur yang bisa diambil, yaitu sekolah  ngambil degree beneran (Bachelor / Master / Doctoral / PhD) atau yang jalur non-degree (exchange).

REQUIREMENT AND MOTIVATION
Nah...secara objektif menurut saya tipe-tipe mahasiswa cem ini dan motif-motif ini biasanya cocok banget buat ikutan exchange atau studi di luar negri yang cuman short term.
  • Mahasiswa S1 yang sedang tingkat 3 mau naik ke tingkat 4 (jadi exchangenya pas tingkat 4. Kenapa? Karena dianggap kalo mahasiswa tingkat 4 minimal udah hampir nguasain basic skill dasar lab dan pengetahuan di field nya masing-masing...ya gak). Sebagian besar student exchange yang ditawarkan emang buat mahasiswa S1. Eits...mahasiswa S2 jangan menyerah dulu karena saya juga baru tau taun lalu ternyata ada juga lho ternyata kampus yang membolehkan mahasiswa master atau graduate student buat ikutan exchange (biasanya nge apply pas tingkat 1, jadi exchangenya pas tingkat 2), misalnya kayak di Tokyo Institute of Technology (Tokodai) dengan programnya yang beken bernama YSEP dan ACAP. Haha kebetulan saya sendiri rejekinya dapet exchange pas S2. :)
  • Mahasiswa yang pengen ngerasain gimana rasanya sekolah di Jepang dan riset di Jepang tapi gak mau lama-lama. Karena biasanya programnya cuman 1 bulan-1 tahun maksimal. Karena Jepang kan terkenal banget tuh sama riset dan teknologinya...jadi pasti banyak yang tertarik.Biasanya bisa juga tuh mahasiswa tingkat akhir sekalian ngelakui Tugas Akhir nya di Jepang...terus di bawa ke Indonesia deh tinggal seminar dan sidang (tapi cuman berlaku di beberapa kampus dan jurusan tertentu aja, tergantung riset)
  • Mahasiswa yang ga ngejer degree di Jepang....dan lebih pengen ngerasain gimana "life experience" kehidupan di Jepang. Karena kalo ikut conference biasanya cuman bentar jadi ga kerasa gimana "sebenernya" tinggal di negri ini...kadang keliatan bagusnya aja kayak menara gading, tapi kalo tinggal disini lebih lama bakal lebih kerasa "suka duka" nya hehe. Tapi kalo kelamaan sampe bertaun-taun juga bosen.
  • Mahasiswa yang pengen cari link profesor atau kampus di Jepang buat ngelanjutin degree selanjutanya. Misal, buat mahasiswa S1 yang pengen kuliah S2 atau S3 di Jepang dan seterusnya...karena intinya kalo mau dapet beasiswa buat ngambil degree tertentu, kita harus cari sensei yang mau nerima kita dulu. Konon biasanya sih kadang mahasiswa exchange suka ditawarin sama sensei nya buat ngelanjutin studi disitu.
  • Dan yang terakhir adalah mahasiswa dengan motif lainnya (termasuk saya dan sebagain besar temen-temen saya ^_^ ) . Misalnya, pengen ngerasain gimana hidup dan ikut festival di negara 4 musim, pengen belajar tapi ga serius-serius amat dan plus plus banyak jalandi sekitar Jepang, pengen belajar budaya atau bahasa Jepang, bosen dari kepenatan di negara sendiri, atau mungkin mau cari jodoh di negri Sakura (*loh). Haha masih banyak motif-motif lain...pokoknya intinya buat kamu yang MAU BELAJAR SESUATU DI JEPANG, BELAJAR BUDAYA JEPANG, MAIN DI JEPANG tapi GA dapet DEGREE di JEPANG.
  • Mahasiswa  yang pengen ikutan program pertukaran stau sekolah di luar negri tapi dana mepet dan ga mau nyusahin orang tua. Haha karena sebenernya banyak banget kan program Student Exchange Program atau Conference dll...tapi rata-rata suka harus bayar sendiri. Nah kalo program yang ini GRATIS sekolah dan hidup di Jepang...karena beasiswanya cukup buat mengcover. Bahkan kalo hemat dan jago ngatur uang tiket pesawat juga bisa kecover :) pluplus uang jalan-jalan keliling Jepang dan buat dibawa pulang ke Indonesia.
  • Mahasiswa yang pengen sekolah di Jepang tapi bahasa Jepangnya ga bisa atau ga jago jago amat. Kenapa? Banyak yang tanya...kalo kita kesini harus jago banget ga sih Bahasa Jepangnya? Ya karena kita disini ikut program exchange, jadi lebih dimaklumi dan biasanya bahasa sehari-hari di kampus sama sensei buat penjelasan akademik dimaklumi kalo pake Bahasa Inggris. Nah terus kaloke  temen temennya dan orang-orang gimana? Nah, itu tergantung sama nasib dapet temen-temen lab bisa bahasa Inggris atau enggak dan di daerah mana kamu bakal exchange. Buat yang bakal exchange di sekitar kota-kota besar kayak Tokyo, mungkin udah banyak beberapa mahasiswa atau orang yang agak lumayan ngerti Bahasa Inggris...tapi kalo di daerah yang lebih terpencil kayak Kanazawa dll mungkin bakal lebih susah nemuin orang yang ngerti Bahasa Inggris...jadi wayahna (kalo kata orang Sunda). Makanya...emang bakal jauh lebih bagus lagi kalo kamu bisa Bahasa Jepang...nilai tambah banget. Kalo saya pribadi ngerasanya Bahasa Jepang disini jadi penting buat minimal  bisa survive.






STEP TO DO
Nah...terus kalo udah ngerasa klik dengan salah satu alasan di atas...selanjutnya gimana. Ini beberapa step yang biasanya dilewati oleh anak-anak exchange, terutama yang dari ITB. Buat kampus lain, mungkin ada agak agak sama atau beda. Check it out-
1. Coba cari di web atau info kantor hubungan internsional kampus tentang exchange yang ada, karena untuk exchange program sendiri pada dasarnya berdasarkan hubungan kerjasama antara kampus Indonesia-kampus Jepang. Setau saya, yang kampusnya banyak punya hubungan dengan kampus Jepang itu kayak ITB, UI, dan UGM. Sori sori..berhubung saya taunya yg ITB jadi buat anak itb bisa diliat disini http://www.international.itb.ac.id/web/?page_id=18 atau kalo masuk ke halaman utamanya bisa dicari di link internal opprtunities-scholarship. Nahh disitu bakal bertebaran banget nama-nama kampus yang nawarin kerja sama ITB. Kalo mau yang exchange coba liat yang program Student Exchange di Keterangannya atau kadang juga ga ada keterangan...jadi cobain aja buka satu-satu

2. Setelah buka dan tau apa aja program yang ada (walaupun kadang kurang update). Saatnnya nentuin mana negara dan kampus yang paling cocok buat kamu. Negara...berhubung bahasnya Jepang, ya anggep aja kalian miliihnya yang Jepang. Untuk Jepang, di ITB sendiri program exchange banyak banget tawarannya. Ada yang dari Osaka Univeristy, Kanazawa University, Tokyo Institute of Technology, Tohoku University, TUEC, dll seabreg dan itu beda-beda tanggal deadlinenya. Jadi, kalo kamu kelewat satu deadline...jangan pantang menyerah. Coba cari di bulan-bulan lain...siapa tau ada tawaran dari kampus lain. Nah terus milih kampusnya gimana??? Caranya bisa kamu bacain di penjelasan program exchangenya,,ngapain aja dan berapa lama. Biasanya program exchange ada yang fokus di riset, fokus di kuliah, atau fokus di pertukaran budaya aja yang penting. Haha coba baca baik-baik jangan sampe ntr nyesel salah milih. Misal, kalo pengen fokus di akademik kyk riset dll YSEP/ACAP Tokodai pilihan yang oke punya (maaf numpang promosi) atau ada juga kyk di Kanazawa yang beberapa programnya titik tekannya lebih ke pertukaran budaya. Pertimbangan lagi terutama buat yang sengaja emang cari link buat degree selanjutnya bisa juga liat dari maunya ntar ngelanjutin di kampus apa. Atauu kalo masih bingung jalan yang paling gampang gampang susah coba cari senior yang udah pernah ikutan exchange sebelumnya, setidaknya biasanya lebih pengalaman dan rata-rata sih ga pelit buat ngasih tau. Pokoknya mah emang mesti niat nyari info dan jangan takut tanya karena malu bertanya sesat di jalan,,hohoho. ^_^

3. Kalo uda nentuin...selanjutnya liat syarat-syarat apa yang dibutuhin buat daftar. Syarat standarnya nih bukti tes bahasa inggris  dengan score minimum TOEFL-PBT 550, IELTS 6,5 atau TOEFL-IBT 100. Plus syarat standar kayak CV dan motivation letter. Buat bikin CV dan motivation letter bikin aja yang menarik dan ga usah panjang-panjang...yang penting nunjukin kalo kalian cukup pantas buat ikutan program exchange dan dibiayain beasiswa ke luar negri. Sekedar tips...buat di ITB sendiri, awalnya saya kira tes TOEFL nya harus yang bener-bener formal dari lembaga TOEFL nya, ternyata karena ini kayaknya cuman skrining awal saya pake Prediction Test TOEFL pun alhamdulillah bisa diterima. Hehe jadi ga perlu keluar duit banyak dan ga harus nunggu lama buat tes..karena kalo yang formal lembaga kan cuman di waktu tertentu biasanya diadain.Buat di Bandung, kalo TOEFL yang institute based, khususnya di ITB bakal diadain cuman sebulan sekali dan di minggu ke 3 tiap bulan kalo jaman saya waktu itu.

4. Submit semua dokumen yang diperluin BUKAN LANGSUNG ke KAMPUS JEPANG...tapi submit ke kantor international Relation Office kampus kita. Ya yang anak ITB ke IRO ITB, yang anak UI ke IRO UI (gtw namanya apa) dst. Haha kalo langsung ke kampus Jepang kyknya kemungkinan ditolak...karena emang mereka kerjasamanya lewat kantor hubungan internasional. Selain itu, nanti IRO (International Relation Office) itulah yang akan menyeleksi dan kalo udah terpilih...ngirim dokumen dan semua berkas yang dibutuhin ke Jepang. Jadi lebih enak kan.

5. Sabar nunggu pengumuman...Biasanya tiap kampus mungkin makan waktu beda-beda. Kalo untuk ITB biasanya 1-2 minggu kemudian kalo syarat-syarat tadi menurut mereka dipenuhi kita bakal dipanggil buat wawancara sama dosen atau pengurus di kantor hubungan internasional tersebut di waktu yang mereka tentuin.

6. Dateng ke wawancara sesuai waktunya, kalo berhalangan bilang biar diatur lagi jadwalnya. Setidaknya kita harus nunjukin keseirusan kita buat ikut ya gak haha. Tips buat wawancara,paling yang ditanya itu biasanya nyantai kok dan dalam Bahasa Inggris (kalo di ITB , ga tau kalo di tempat lain mungkin sekalian nguji kemampuan Bahasa Inggris kita setidaknya ga ancur ancur amat karena penting banget apalagi kalo gak bisa bahasa Jepang). Hahaha ga bakal ditanya soal kalkulus, itung-itungan termodinamika, farmakokinetika yang njelimet... Paling banter dan utama ditanya soal motivasi kita apa, tau gak program yang mau kita ikutin apa, kita disana mau ngapain aja, tau apa soal Jepang, dan lain-lain sesuai program yang kalian apply (misal: kalo saya ditanya udah ngehubungin sensei atau profesor disana belumm). Kalo bisa bahasa Jepang kayak nya bisa jadi nilai plus sendiri.

7. Tunggu lagi pengumuman selanjutnya. Haha memang butuh kesabaran menunggu....dan lama menunggunya juga ga pasti (maklum Indonesia). Kalo kita lolos tahap wawancara kita bakal dihubungin buat dateng ngisi form.

8. Isi formulir yang disuruh buat ngisi...coba isi dengan sebaik-baiknya. Karena form ini yang biasanya bakal dikirim ke kampus tujuan yang di Jepang buat nentuin kita diterima atau enggak buat exchange disana (kampus Jepang yang nentuin) dan juga bakal dikirim buat akhirnya nentuin kita bakal dapet beasiswa atau enggak.

9. Nunggu lagi dengan sabar. Kalo emang rejeki, nanti dari kampus JEPANG atau dari kampus kita yang di INDONESIA bakal ngabarin aplikasii kita diterima atau enggak buat jadi mahasiswa exchange. Kalo ga diterima ya namanya belum rejeki coba lagi, kalo diterima tahap selanjutnya adalah seleksi beasiswa. Untuk mahasiswa exchange atau short-term biasanya oleh kampus di Jepang atau yang di Indonesia bakal langsung otomatis diapply untuk dapet beasiswa yang namanya JASSO (Japan Student Service Organization)  dari pemerintah Jepang yang besarnya sekitar 80,000 JPY/bulan atau buat orang-orang dengan track record tertentu bakal dapet beasiswa dari SATO yang nominalnya agak lebih besar daripada JASSO. Jadi biasanya otomatis...kita ga usah ngurusin lagi. Ya, kalo dirupiahin 80,000 JPY itu sekitar Rp 8.800.000,00 kalo kurs nya sekarang. Sekedar info, biasanya tiap taun jatah tiap kampus maksimal 3 orang buat program yang sama. Pemilihannya berdasarkan apa? #haha saya sama temen temen saya juga bingung kenapa bisa lolos...masih misteri dan yang pasti memang takdir :)

10. Nahh tahap nunggu pengumuman beasiswa  ini yang kadang bikin deg degan karena biasanya pengumumannya super lamaaaa jadi harus sabar banget dan sering kepikiran. Atau kadang-kadang berakhir dengan sebel dan sakit hati karena keterima buat ikut program exchangenya tapi gak di cover beasiswa, jadi harus bayar sendiri. Ternyata bisa juga....buat yang duitnya dilebihkan exchange tapi bayar sendiri (hehe....uang darimana tapi). Makanya harus banyak banyak doa. Tapi sejauh ini saya liat mahasiswa yang dari Indonesia kalo emang udah keterima buat program exchange di kampus yang bersangkutan biasanya bakal dapet JASSO minimal.

11. Dan akhirnya pengumuman resmi kalo rejeki ya kita keterima exchange dan beasiswa JASSO. Kalo gak keterima beasiswa ya coba cari duit di tempat lain...misal ke Dikti dll walau pasti jauh lebih susahdan ga banyak dapetnya. Nah tahap terakhir biasanya tinggal koordinasi sama pihak jepangnya...misal kayak harus ngelengkapin administrasi buat VISA dan lain-alain sebarek. And it's done :)

12. Siap-siap buat berangkat ke Jepang...kayak bikin VISA dan beli barang-barang yang mau dibawa. Nah harus ati-ati karena kadang pengumuman kita keterima dan tanggal keberangkatan itu in some cases suka mepet banget hahaha jadi kadang super riweuh.

Ya begitulah step by step nya secara garis besar kalo mau ikut exchange program di Jepang, khususnya yang Tokyo Tech (YSEP/ACAP) dan lebih khususnya lagi dari ITB. Karena bisa aja tiap kampus punya mekanisme seleksinya masing-masing. Nah...terus apa hal-hal yang harus dipertimbangin sebelum apply?

  • Kalo ikut exchange kalian udah harus siap nerima kalo bakal lulus lebih lambat dibandingin temen-temen kalian sekitar 6 bulan sampe 1 taun lebih lambat. Selain itu, status di kampus keitungnya cuti, jadi harus tetep bayar uang pokok semester biasanya yang tergantung angkatan masing-masing. Dan selama exchange harus masih punya status mahasiswa di home univeristy. Nah...kalo saya kasusnya berhubung statusnya udah lulus dan yudisium buat dapet status mahasiwa ga boleh wisuda dulu. Jadi saya harus nunda wisuda sekitar 6 bulannya lagi atau 1 tahunnya lagi dan bayar uang semester yang lebih murah sekitar 250.000/semester (cuman uang administrasi gitu karena uda beres kuliah dan penelitiannya). Tapi, kalo menurut saya pribadi nunda kelulusan dan bayar uang segitu ga ada apa-apanya kok dibandingin life experience yang bakal didapet disini.
  • Siap siap buat nyediain uang awal untuk tiket sama bulan pertama. Kenapa? Soalnya untuk yang dapet JASSO, sejak taun saya (2013) penerbangannya ga ditanggung jadi harus bayar sendiri dan pinter-pinter cari tiket yang murah dan tetep oke (biasanya harga tiket pergi ke Jepang range nya macem-macem tergantung pesawat dan musim promo atau enggak, sekitar 2.000.0000-10.0000an rupiah sekali jalan). Tapi kalo yang dapet beasiswa dari yayasan SATO, flightnya ditanggung. Dan siap-siap buat bulan pertama karena sistem beasiswanya itu stipend, yaitu pembayaran bakal dilakuin di akhir tiap bulan. Tapi...seperti yang saya bilang di atas...kalo kalian bisa pinter ngatur uang, semua biaya flight dan neko nekonya insyaAllah bakal kecover di akhir sama uang beasiswa yang kita dapet. 

So...gitu aja. Life is choice, setiap orang punya jalannya masing-masing dan pilihannya masing-masing. Dan jangan terlalu sedih juga kalo emang belom dapet ya belom rejekinya. Karena kan belum tentu hal yang kita kira baik menurut Allah itu baik buat kita saat itu....sebaliknya kalo menurut kita buruk belum tentu menurut Allah buruk buat kita saat itu. Saya sendiri juga dari S1 udah nyoba-nyoba pengen ngikut apply exchange atau apa gitu yang ke luar negri kesana kemari...tapi akhir-akhirnya selalu gagal entah karena telat deadline, nilai TOEFL ga cukup, kurang syarat, ga ada duit atau bahkan karena hal-hal sepele lainnya. Yang penting kita selalu berusaha terus...dan alhamdulillah kalo emang udah rejeki saat itu pasti dikasih sama Allah di waktu yang paling tepat. Jadi, husnudzan aja sama Allah ^_^  rejeki masing-masing makhluk-Nya kan tidak akan tertukar satu dengan lainnya.